Rabu, 19 September 2012

untuk mu sahabatku

Untuk sahabat yang namanya tak pernah luput dari setiap doa dalam setiap sujud panjang Engkau adalah irama yang ada disetiap nada engkau seperti udara yang membuat rongga dada ini lega tak perlu engkau membawa segenggam berlian untuk membuat aku bahagia apalagi dengan kata rayuan pujian yang meninggikan tapi mungkin tanpa makna engkau tak pernah bosan melihat aku berkeras hati dalam tiap langkah jatuh,,bangun,,bahkan ketika aku tak lagi ingin berjalan. mungkin istilah yang ingin kupakai adalah stagnan. Nyata atau mungkin perasasaan. engkau yang dengan sabar menantiku pulang, atau menyapa dalam tiap kesempatan menceritakan sepanjang panjangnya keluhan..ah..bahkan kadang saat paling sedih dan saat pling bahagia saja aku menghubungimu tanpa banyak bertanya seharusnya bukan aku saja, tapi engkau juga membutuhkan ku. tapi engkau terdiam, hanya tersenyum..masalahmu akan kau simpan, sedangkan sekecil apapun masalahku akan menjad masalah besar bagimu.namakuu tak pernah luput dari doamu.. sepertinya tak perlu keujung dunia aku mencari sosok mu yang sempurna sosok seorang hamba yang setia menanti orang yang paling engkau sayang berhasil membawa kecupan sayang untuk sekedar mengatakan : maaa...hidupkuu..sempurnaa dengan binar binar mata yang nyata, tanpa suatu jeda. Untuk sahabat yang bahkan menyebut namanya hampir tak pernah dan panggilan untukmu ibu, bunda, mamah, mami tapi aku cukup memanggilmu "maaa..." maaf jika aku blm menjadi sempurna. bahagiamu adalah bahagiaku pasti lelahmu adalah lelahku juga... Goettingen, 20 September 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar