Senin, 19 November 2012

Lag Multidimensi

Sudah dua bulan ini saya kemabali ke tanah air, dengan bekal seadanya saya memberanikan diri untuk berkata bahwa..saya lulusan separo separo kembali ke tanah air membuat saya berpikir ulang, benarkan ini yang saya inginkan? agak berlebihan kiranya, padahal saya baru satu tahun berada di negeri antah barantah sana mungkin pemikiran saya adalah lag kesombongan yang tidak bisa saya generalisir kepada semua orang yang sudahlamahidupdiluar dan kembali ke tnah air. melihat betapa berbedanya kehidupan di sana dengan di tanah air ini saya tidak mengatakan sepenuhnya negatif ya..tapi mungkin beberapa dari pembaca berpikir bahwa arah tulisan ii adalah menjelek jelekan tanah air sendiri hehehe.. ada beberapa hal yang saya catat begitu turun dari pesawat 1. Bandara: oke bandara Indonesia adalah bandara yang cukup besar, penerbanganya pun sangat ramai. tapi agaknya fasilitas untuk mendukung kenyamanan penumpang maup[un pengunjung kurang memadai. saya tidak akan membandingkan persis ama dengan Frankfurt,schipol amsterdam maupun dubai. tentu saja jauh ketinggalan. Tapi hemat saya, sebagai sebuah bandara international, CGK setidaknya membuat turis2 yang untuk kali pertama berkunjung ke Indonesia merasa bahwa Indonesia itu indah, rapih, dan bersih. sekali lagi saya tidak bicara teknologi yang berlebihan. menurut saya kejauhan ah 2. Jalanan : fiuuhhhhhhhh.. nampaknya keluhan saya ini dapat saya generalisasikan ke semua awak warga negara yang berkunjung ke ibu kota, jawa barat atau kota kota besar lainnya di seluruh Indonesia. Kemacetan adalah musuh nomor satu di jalanan, bayangkan saja..untuk jakarta-bogor saya bisa menempuh perjalanan hingga 3-4 jam. itu masih smp bogor kota, nah kalau sampe ke kampus sayaaa..waduuwww.... kecelakaan lalu lintas adalah bahaya nomor satu. saya bukan pengamat kecelakaan di negeri ini, akan tetapi sepengetahuan saya angka kecelakaan karena kelalaian pengemudi tidak dapat terhitung jumlahnya. dalam sehari, kecelakaan di jalan raya dapat menewaskan 100 nyawa bahkan lebih. Pengamen..oke..saya bukan menafikan bahwa saya tidak peduli orang lain mencari nafkah. hanya kadang kadang buat saya itu sedikit mengganggu. Bayangkan saja untuk setiap perempatan yang saya temui ketika naik angkot, banyak sekali pengamen yang berebutan masuk ke angkot. Kadang saya pikir, kebanyakan dari mereka adalah pemuda usia produktif, dan anak anak usia balita.. 3. birokrasi: ahahha kalau yang ini saya no comment 4. lingkungan yang kotor dan penuh sampah, serta kesadaran para orang tua yang kurang dalam memberikan pendidikan kebersihan sejak dini. ah berlebihan ya kayaknya, tapi beberapa kali saya melihat ibu yang membuang sampah di depan anaknya, bukan di tempat sampah..tapi dimana saja. dan dia bahkan menyuruh anaknya membuang sampah di tempat yang sama, seakan akan hal tersebut adalah lazim. 5. menyerobot antrian 6. hedonisme 7. rasa apatis dll dll tapi hal hal diatas masih kal;ah indah dengan suara adzan, sejuknya masjid, ramahnya penduduk desa dan budaya tolong menolong yang kadang tidak bisa di lupakan harusnya penduduk Indonesia bersyukur, negeri ini di karuniai kondisi yang menganggap toleransi adalah segalanya. kita bisa menjalankan ibadah apapun kita dengan tenang, tanpa intimidasi dan dalih jadwal pekerjaan yang tidak bisa di ganggu dengan waktu ibadah apapun itu. Bagi saya Indonesia adalah rumah, sama seperti ketika saya pulang dan saya menemukan kehangatan yang tidak saya temukan dimanapun kecuali di rumah saya. salam pie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar