Sang perempuan tau, sang lelaki terus menunggu...memastikan dia baik2 saja, meninggalkan pesan pada orang yang ia kenal agar sang laki2 baik2 saja, membuat keadaan menjadi lebih ringan, membuat semuanya terlihat biasa-biasa saja...Setidaknya sang perempuan tahu, sang lelaki harus baik-baik saja, melanjutkan hidup dan bahagia..
Ada yang aneh pada kita, hanya memunculkan satu kata tanya : mengapa aku melakukan ini?
Barangkali mungkin itu mengapa mereka harus mengenal mengapa kematian itu ada,, mungkin konsep pertemuan dan perpisahan yang sudah seringkali mereka bahas dan berakhir dengan menguatkan satu sama lain. sedang dia-sang lelaki, memeluk dirinya erat dengan kesakitan, dan kehilangan. Mungkin..sang perempuan menduga, karena ini adalah sebuah konsep. dan lelaki menduga ini adalah keegoisan.
ingatanya kembali ke masa itu, dulu,, entah berapa tahun yang lalu, ketika mereka mulai mengenal cinta..nafasnya tertahan pada satu jeda. Kenyataan.
Sang perempuan menitipkan satu pesan saja, yang ia tulis rapi, agar sang lelaki tahu
-------------------------------
Laki-laki dan perempuan itu berada diatas panggung penghargaan, seperti biasa, menatap penonton yang melihat mereka antara iri dan terkagum-kagum, membuat semua orang di hall itu, bertanya-tanya bagaimana mereka menjalin hari-hari. Mereka berdua saling memandang puas. Ini kali ke tiga mereka berhasil mengukir prestasi.
Jangan bertanya seperti apa hubungan mereka, semua orang tau,.
sudah jadi satu paket. ibarat pasangan duet yang dimanapun ada kontrak manggung akan selalu bersama, untuk setiap kesempatan kalau perlu.Seperti janji yang tak pernah terucap, mereka tidak ingin terpisah satu sama lain, sampai mungkin sudah melekat dalam ingatan orang yang mengenal mereka, : oh dia...perempuanya si anu" atau :oh dia..lelakinya si itu: seperti itu bertahun2, sudah menjadi semacam trade mark yang melekat, sampai mungkin ada tulisan di dahi masing-masing :saya adalah hak milik:
Kemudian, jangan tanya bagaimana mereka bertemu,, seperti biasa..semua terjadi karena kebiasaan..pertemuan yang mungkin memang ditakdirkan oleh Tuhan, ketidaksengajaan yang mungkin memang sudah digariskan, Sang lelaki jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua dan seterusnya...berusaha mengejar sang perempuan, dan mungkin memang kebetulan sang perempuan juga menyukai sang lelaki..dari pandangan..entah keberapa, sederhana saja, karena laki-laki itu begitu hidup. dan mungkin benar kata orang "otak laki-laki adalah daya tarik yang besar bagi perempuan" setidaknya itu berlaku bagi sang perempuan, dengan pendekatan laki2 yang tidak biasa.....ehmm..awalnya menjadi teman.lalu dengan caranya..mulai memberikan perhatian yang perempuan itu suka,, menunggunya pulang. meski jalan mereka tidak searah, setiap hari..sampai itu menjadi sebuah tradisi.
Lalu, jangan tanya seperti apa mereka menjalani hubungan, biasa saja..karena bagi mereka menghargai keberadaan satu sama lain adalah lebih dari cukup. Karena bagi mereka, satu sama lain adalah jamak, dan masing-masing individu adalah sangat berharga. Prestasi akademis dan prestasi-prestasi lain, mereka ukir bersama, mungkin jiwa bersaing melekat dalam otak mereka, termasuk bersaing siapa lebih mencintai siapa.
:
Sang perempuan tau betul siapa sang lelaki, dia hapal rutinitas rutin sang lelaki, bangun pada jam yang sama, dan menjemputnya pada jam yang sama pula setiap harinya, meski kadang ia tidak meminta. dan selalu mencarinya, meski kadang dengan sikap malu-malu..selalu menggodanya setiap hari, sampai sang perempuan itu ngambek dan tidak mau bicara, lalu sang lelaki menyediakan es krim dan sebotol jus favorit sang perempuan. Atau saat sang perempuan menangis karena hal-hal yang membuat dunia ini seperti tidak adil, sang lelaki datang, hanya mendengar sang perempuan bercerita berjam-jam, lalu menceritakan hal-hal lucu dan sebuah permainan, agar sang perempuan tertawa.
Tapi sang lelaki, mungkin tidak tahu, betapa keras usaha sang perempuan agar selalu dapat merasa pantas disamping sang lelaki, ia membaca semua informasi yang menjadi hal-hal yang disukai sang lelaki, ia mencari tahu apapun yang menjadi ketertarikan sang lelaki, ia berusaha dengan keras mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang hari-hari sang lelaki, dan mengoleksinya dalam ingatan. Kemudian mengeluarkan satu persatu koleksinya saat ia merindukan sang lelaki. Untuk sang lelaki, sang perempuan selalu menyediakan waktu berdikusi berjam-jam tentang hobi sang lelaki, mungkin ingin menjadi yang paling sempurna. Tapi dalam hatinya, ia hanya jatuh cinta.
dan Sang lelaki tahu betul siapa sang perempuan, seorang perempuan manis dan selalu cantik di matanya, tertawa lepas dan ada lesung pipi yang samar diantara tawanya. Sang perempuan selalu ingin tahu semua hal yang ia lakukan, sang perempuan selalu bertanya tentang berbagai hal, dan ia selalu bersedia dengan senang hati memberikan informasi apa yang ia tahu. Sang perempuan yang membuatnya selalu ingin menjadi yang sempurna, sang perempuan yang membuat dirinya yang memang dilahirkan untuk mendua, menjadi seorang yang hanya tertuju pada satu.
tapi sang perempuan mungkin tidak tahu, betapa setelah bertahun-tahun ini hatinya tersiksa, dan terbebani. menjadi seseorang yang selalu ada disamping sang perempuan, menjadi seseorang yang harus bisa membahagiakan sang perempuan, membuatnya tertawa setiap hari. Karena air mata sang perempuan adalah benda sakral yang tidak boleh keluar.
Bertahun-tahun hubungan mereka berjalan, sang lelaki mulai menemukan kekurangan,, bukan pada sang perempuan, tapi pada dirinya, sebuah konsep kesempurnaan diri menjadi sebuah beban yang tak kunjung hilang. Sang lelaki tumbuh dewasa, menemukan kehidupan yang ternyata sangat berbeda..dan menemukan dirinya tidak sanggup akan konsep "kesempurnaan" yang mereka bangun bertahun-tahun. Ada resitensi dirinya yang muncul, bahwa sang perempuan harus bisa hidup bahagia tanpa dirinya..bukan sebuah kepercayaan, tapi ketakutan-ketakutan itu terus datang, mengahantui hari-hari mereka.
Bertahun-tahun hubungan mereka berjalan, sang perempuan mulai merasakan kalau sang lelakilah yang ingin ia jadikan satu-satunya pelabuhan hati. Ia menutup mata terhadap semua, seperti tak pernah punya masa muda. Orang-orang terdekatnya mulai khawatir, sang perempuan telah salah menafsirkan cinta, karena bagi orang lain, mereka masih terlalu muda.
Mungkin ketakutan sang lelaki tidak sejalan dengan impian sang perempuan, mungkin Cinta itu datang terlalu dini kepada mereka, dan mereka menelan mentah-mentah apa itu rasa. Tapi mereka tidak peduli, tetap tegak seperti batu, pada pendirian masing-masing setidaknya..dan sampai hari itu, sang lelaki memutuskan tiada lagi kita. yang ada hanya individu.
sang perempuan tertegun lama, tiada air mata yang turun dan mengalir seperti yang ia kira dulu, saat mungkin ia harus kehilangan sang lelaki. Hanya ada kata tanya : mengapa kamu lakukan ini?
Sang lelaki terdiam dan pergi, tanpa satu kata. Ia tidak sanggup melihat jauh ke dalam mata sang perempuan, ia takut, memutuskan untuk memeluk perempuan, dan menenangkanya seakan semua baik-baik saja, seperti biasa. Diam-diam ia titipkan sang perempuan pada Tuhan, setiap malam janjinya, ia memohon agar Tuhan melindungi sang perempuan dan membuatnya bahagia.
---------------------------------------------------------
Beberapa waktu telah berlalu, sebuah konsep perpisahan itu, kini telah mendarah daging dihati sang perempuan. dan ia selalu berhati-hati menjaga hati, agar ia tahu ada perpisahan dalam pertemuan. berbulan-bulan, ia merasa didunia yang sangat asing, dunia tidak berpihak padanya, padahal semua sudah ia susun rapi di otaknya. Berbulan-bulan pula, ia seperti mayat, ah bukan zombie barangkali, yang hidup tidak matipun tidak, Ia hilang ingatan, semua tentang mereka...ah dia yang bertahun-tahun mengisi otaknya, pelan-pelan ia mulai hapus, dengan sedikit paksa. Bahkan ia memimpikan operasi penghilangan ingatan saja.
Hari-hari ini hatinya merasa lebih lapang, semua yang ia harapkan datang, akan datang, ia tersenyum pada langit..mungkin...Karena besok siang, ia akan menghadapi suatu momen penting. pengucapan janji sehidup semati. Bukan keindahan atau keabadian lagi yang menjadi dasar, tapi karena konsep perpisahan ia telah siap, dan kini mantap melanjutkan langkah.
Sampai, sang lelaki itu datang dua hari sebelumnya. ada keanehan menyembul saat sang perempuan bertemu sang lelaki, yang membuat dia berjarak dengan dirinya sendiri dan menimbulkan kata tanya, mengapa tidak ada lagi perasaan itu. lalu keanehan lain menyusul, sang perempuan tahu, memang inilah jalanya.
Sang lelaki diam pada pemikiranya, penyesalan itu datang tak diundang, melihat cincin melingkar di jari manis sang perempuan.
"kemana saja kamu.."
tanya sang perempuan dalam suara bergetar yang sangat ia rindukan, suara marah, sedih dan putus asa, atau bahkan terdengar sedikit datar.
"ada.."
jawabku dengan hati.. dan memberanikan diri berjalan mendekat.
Satu sosok hangat mendekati sang perempuan, perempuan itu merasa gamang, pijakanya hilang keseimbangan. Dan saat itulah tubuhnya diraih tangan halus saat menyapu pipinya. perempuan itu mematung ditengah ruangan, ia tidak merasakan apa-apa. Hanya sedikit kerinduan,, ya sedikit saja.
" Aku rindu kamu.."
sang perempuan menegang, ia diammm..mendengarkan. kata kata itu akhirnya dibisikan sang lelaki, sebelum sang lelaki pergi dengan frustasi. ia sangat merindukan perempuan itu, setelah sebelumnya sempat mengira semua yang ia dengar selama ini hanyalah kabar palsu. Sang perempuan pasti masih akan tetap sama, dan menunggu. Tangan sang perempuan ia raih, lama sekali dipandangnya cincin itu, memastikan..sekali lagi memastikan semua ini nyata. Sang perempuan menarik pelan tanganya, risih, dan cepat-cepat ia sembunyikan tangan mungil itu ke dalam saku dressnya.
Untuk itulah ia membuktikan dihari ini,
dan air matanya menetes terbawa angin,
seharusnya...itu tak pernah ada.
sebenarnya ini adalah cerita rekayasa, tanpa nama, dan dibuat karena keingintauan saya,...
ehm
cerita ini dibuat karena saya terkadang terlalu menjelaskan pertanyaan yang sering diajukan kepada saya, tentang sebuah cerita masa lalu. yang bagi sebagian orang yang mengenal saya. cerita ini terasa nyata.
dibuat di : Bogor, 9 July 2010
Kecoa?? dewi lestari bukan??!
BalasHapussalah ah, bukan.
BalasHapusiyah,, guah pernah baca cerpen judulnya kecoa..
BalasHapusdi rumah saya, binatang ini begitu leluasanya. ke sana kemari, seakan-akan dia makhluk yang dicintai di rumah ini...
BalasHapusgito: salah..andi eriawan. always laila
BalasHapusayamcoet: iya.kecoa memang kadang tidak tau diri